Malam itu saya berbincang dengan Bestie mengenai musikalitas beberapa musisi. Kebetulan beberapa hari ini sedang rindu dengan album Bintang Lima milik DEWA dan teringat akan satu lagu yang tidak pernah bosan saya dengarkan; Risalah Hati.
Hidupku tanpa cintamu, bagai malam tanpa bintang.
Cintaku tanpa sambutmu, bagai panas tanpa hujan.
Risalah Hati memiliki keunikan yang selalu mengendap dipikiran semua orang. Seolah Dhani ingin menanamkan sebuah kepercayaan yang perlahan-lahan menjadi iman. Lagu ini dibuka dengan irama yang mengayun, tanpa terburu-buru. Lirik yang mudah dicerna dan dinyanyikan dengan artikulasi yang jelas, tidak ada keraguan. Hingga akhirnya masuk membangun sebuah pijakan awal : Jiwaku berbisik lirih. Ku harus milikimu.
Lagu ini menjadi sangat magis ketika nada mulai naik pada reff. Tidak jauh bedanya dengan metode self-hipnosist yang menekankan pada pembangunan sugesti pada diri. Contohnya, untuk meningkatkan kepercayaan diri, kamu harus dengan yakin berkata “Saya adalah yang terbaik, saya layak mendapatkan yang terbaik. Saya adalah yang terbaik, saya layak mendapatkan yang terbaik.”. Self-hipnosist bekerja dibawah alam sadar dan memaksakan laju kesadaran untuk mengarahkan dengan apa yang kita kehendaki. Dhani memasukan metode ini dalam Risalah Hati.
Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.
Beri sedikit waktu, biar cinta datang karna telah terbiasa.
Untuk membangun kondisi yang lebih dekat dengan realita, muncul beberapa usaha manusia dalam kesadaran yang dia bangun. Salah satu nya dengan menyisipkan unsur diri dalam sebuah benda yang dapat membangkitkan memori secara fenomenologis. Tujuannya hanya satu, ketika kita melihat benda tersebut, kita akan secara otomatis masuk ke dalam ruang dan waktu yang mengingatkan kita pada suatu kondisi tertentu. Misalnya, kita memberikan kado berupa jam weker kepada seseorang dihari ulang tahunnya. Keberadaan jam weker yang kita berikan diharapkan dapat membangun sebuah moment: setiap dia bangun pagi dan melihat jam itu, dia ingat kepada kita. Dhani cukup cerdas untuk melihat titik strategis ini dan menyisipkannya dalam lirik yang sederhana.
Simpan mawar yang kuberi, mungkin wanginya mengilhami.
Sudikah dirimu untuk temani aku dulu.
Sebelum kau ludahi aku.
Sebelum kau robek hatiku.
Penekanan unsur kata yang didukung dengan aransemen yang kuat merupakan kekuatan yang sangat hebat dalam kerja alam bawah sadar. Nada-nada yang mengalun perlahan di awal lagu lama-lama semakin naik intensitasnya. Pengaruh yang ciptakan mulai meluap-luap menjadi motivasi yang melebihi retorika Mario Teguh dalam Golden Ways-nya. Dinamika emosi yang dimainkan menjadi merajalela. Pertengahan lagu menuju akhir bekerja seperti penetrasi pencuci otak. Setara dengan dogma agama.
Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta.
Kau tak cinta.
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku.
Hingga detik ini saya tidak pernah habis pikir dengan apa yang Dhani pikirkan saat membuat lagu Risalah Hati. Bestie berasumsi bahwa Dhani sedang terpengaruh oleh era klasik. Saya setuju dengan hal itu mengingat Kahlil Gibran menjadi sumber inspirasi lagu-lagu dalam album Bintang Lima. Risalah Hati menjadi sebuah kekuatan magis yang tidak pernah mati. Mempermainkan emosi, membangkitkan keyakinan dalam alam bawah sadar, dan menenangkannya kembali. Saya hanya meyakini satu hal: lagu ini adalah mantra.
Hidupku tanpa cintamu, bagai malam tanpa bintang.
Cintaku tanpa sambutmu, bagai panas tanpa hujan.