Dear November,
Banyak hal yang saya lewatkan ketika kamu datang. Sekian banyak hal yang tidak saya suka berdatangan, satu persatu. Saya hanya meyakini, bahwa memang kamu adalah halangan terbesar dalam hidup saya hingga detik ini. Setidaknya saya terus mengeluhkan tentang siklus hari: jalan di tempat!
Dimulai dengan gempuran akademis yang menyerang pikiran hingga akumulasi ketidakmampuan. Menggempur habis-habisan. Ketidakmampuan dalam memegang teguh prinsip dalam argumentasi sampai mati. Ketidakmampuan dalam intelegensi. Ketidakmampuan dalam menjaga kesehatan hingga akhir bulan. Ketidakmampuan dalam mengatur tensi saat bergelut dengan dialog. Ketidakmampuan untuk mandiri, tanpa basa basi dengan diri sendiri. Ketidakmampuan dalam berelasi dengan manusia. Ayolah.
Saya hanya menunggu sepuluh hari lagi dari hari ini untuk mencari jeda nafas. Untuk mencari-cari yang tercecer, mengumpulkan yang berserakan. Saya ingin bertemu kamu tanpa beban, November. Tapi hampir tiga tahun ini, tidak pernah ada belas kasih.
Saya hanya ingin bertemu kamu tanpa beban, November. Semoga masih ada waktu. Semoga masih ada kesempatan.
Sampai jumpa (besok),
A.W