” Terima kasih. Bersamamu aku nyaman, aman, tentram, gengges, dan jahat. Kapan kita satu kursi lagi? Kapan kita main tap tap lagi? Kapan kita bertengkar karena almarhum papamu lagi?” - Yoga Muhammad.
Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan dengan penuh paksaan. Itu pada awalnya, karena memang tidak ingin satu hal pun menghalangi niat saya untuk tidak berada dipanggung. Saya hanya ingin menjadi punggung.
Terima kasih untuk segala pengertian bahwa saya memang memiliki keterbatasan untuk menerima dengan lapang dada karena saya memelihara luka. Saya pendendam. Saya bawa dendam saya menuju entah. Saya hanya ingin seperti kamu, fokus pada peran tanpa ada sandang pangan dibelakangnya.
Terima kasih untuk semua pupukan percaya diri bahwa saya tidak mampu.
Terima kasih untuk kepercayaan bahwa ternyata saya bisa duduk di garda depan.
Terima kasih untuk kasih sayang yang tercurah untuk menjadi peran pongah.
Terima kasih untuk dukungan yang tidak pernah musnah.
Terima kasih untuk panggung yang bersedia saya pijak. Terima kasih telah mengizinkan saya meninggalkan jejak.
Saya akan sangat merindukan ini. Sungguh.